Kasepna Maratan
Langit

Disertakan padanya kehidupan yang candu ini, dari ESA. Lalu tumpahlah seluruh kisah. Tentang kesempatan yang ia damba, yang tak pernah sekali saja terlaksana, dan angan yang tertolak realita.

Tentangnya

Nama: Kasepna Maratan Langit
Tempat Lahir: Lembang Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Tanggal Lahir: 8 Desember 2002
Pekerjaan: Musisi (Penyanyi Dangdut, Pemain Gamelan)
Domisili: Bandung - Jakarta
Keluarga: Ayah, Ibu, dan satu orang anak kandung.

Sedikit Kisah

......

Biar aku...

Kasepna, atau Asep, adalah seorang anak dari keluarga yang sebenarnya cukup berada di desa mereka. Ayahnya, Pak Ujang, berasal dari keluarga pemilik lahan pertanian yang luas, dan ibunya, Bu Ningsih, adalah anak seorang pedagang sukses di pasar desa. Meskipun memiliki latar belakang keluarga yang berada, Pak Ujang dan Bu Ningsih memilih untuk hidup sederhana, jauh dari kemewahan yang bisa mereka nikmati.Pak Ujang bekerja sebagai kusir andong, bukan karena terpaksa, tapi karena ia ingin hidup lebih dekat dengan masyarakat dan merasa senang bisa membantu orang-orang di desanya. Bu Ningsih, di sisi lain, menikmati membuat dan menjual kue-kue pasar di pagi hari sebagai cara untuk menjaga tradisi dan berinteraksi dengan tetangganya. Mereka percaya bahwa kehidupan sederhana yang mereka jalani mengajarkan anak-anak mereka tentang nilai-nilai kerja keras, kemandirian, dan kebersamaan.Namun, Asep memiliki pandangan berbeda. Ia melihat bagaimana orang tuanya bekerja keras setiap hari, dan meskipun mereka tidak pernah mengeluh, ia tahu bahwa hidup mereka tidak selalu mudah. Asep ingin melakukan sesuatu yang lebih besar, tapi bukan di jalur yang diharapkan orang tuanya. Bakatnya dalam bernyanyi sudah dikenal di desa, dan ia sering diajak oleh Kang Wawan untuk tampil di berbagai acara desa dan pasar malam.Suatu sore, saat Bu Ningsih sedang membersihkan beras di teras rumah, Asep memberanikan diri untuk berbicara. "Mak," kata Asep sambil duduk di sebelah ibunya. "Asep ga usah kuliah aja ya?"Ibunya berhenti sejenak, menatap Asep dengan bingung. "Kenapa kamu ngomong gitu, Sep?" tanyanya, meskipun dalam hatinya ia sudah bisa menebak jawabannya.Asep menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Asep pengen jadi penyanyi dangdut, Mak. Kayaknya lebih cocok sama Asep daripada sekolah terus."Pak Ujang, yang mendengar percakapan mereka dari dalam rumah, keluar dan tersenyum. "Kalau itu yang membuatmu bahagia, Asep, bapak tidak akan melarang. Tapi ingat satu hal, hidup sederhana ini adalah pilihan kami untuk mendekatkan diri pada yang penting dalam hidup: keluarga, dan Tuhan. Kalau kamu mau jadi penyanyi dangdut, jadilah penyanyi yang bisa membawa kebahagiaan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain."Ibu Asep, yang pada awalnya tampak terkejut, akhirnya mengangguk pelan. "Asal kamu jangan lupa asal usulmu dan selalu ingat berdo'a, Mak setuju saja."Malam itu, Asep merasa lega sekaligus bersemangat. Ia tahu bahwa jalannya tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan dari kedua orang tuanya yang memilih hidup sederhana dengan hati yang besar, ia siap menghadapi tantangan apa pun untuk meraih mimpinya.

......

Jaga anak kita...

Setahun lebih berlalu, dan Asep telah lumayan dalam menekuni karirnya. Namun siapa sangka, ia menemukan dambaan hati ketika ia tengah fokus meniti jalan yang amat ia inginkan.Asep menatap sesosok wanita bernama Rengganis dengan tatapan yang dalam, seakan seluruh dunia lenyap di sekeliling mereka. Di sudut ruangan tempat acara digelar, suara musik dangdut masih mengalun, namun pikiran Asep sudah terbang ke masa depan—masa depan yang hanya dipenuhi oleh Rengganis.“Kita menikah saja, sekarang juga,” bisik Asep dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.Rengganis tersenyum tipis, sedikit ragu namun tak mampu menolak tarikan cinta yang begitu kuat. Mereka sudah mengenal satu sama lain hanya beberapa bulan, tapi setiap detik yang mereka lalui terasa seperti ditakdirkan.“Kamu yakin, Asep? Orang-orang pasti akan bilang kita terburu-buru.”Asep menggenggam tangan Rengganis erat. “Aku tahu hatiku. Aku ingin hidup bersamamu, tak peduli apa yang terjadi.”Namun, jalan mereka tak seindah yang dibayangkan. Orang tua Asep, yang biasanya mendukung setiap langkahnya, kini memandang keputusan itu dengan berat hati. Pak Ujang mencoba menahan kata-kata pedasnya, tetapi kekecewaan tak bisa disembunyikan.“Asep, kamu terlalu muda. Hidup sebagai penyanyi tidak stabil. Bagaimana kamu akan mengurus istri dan keluargamu nanti?”Tetapi bagi Asep, cinta sudah menjadi segalanya. Dia yakin, bersama Rengganis, mereka bisa mengatasi apa pun. Dengan senyum percaya diri, ia menjawab, “Aku akan buktikan, Pak. Aku akan buat dia bahagia.”Namun, di balik keyakinan itu, langit sudah mulai menggelap.dua tahun berlaluAsep menatap kosong ke luar jendela, tangannya memeluk Salega yang terlelap di pelukannya. Malam itu sunyi, hanya suara angin yang berdesir perlahan di luar rumah mereka. Di ruangan yang gelap, hanya diterangi lampu malam yang redup, keheningan terasa berat, seolah-olah memeluk Asep dengan dingin yang menyusup hingga ke tulang."Mbu nana? Mbu?" (*Ibu mana? Ibu?) Suara lirih dari bibir Salega yang masih belum sempurna mengucapkan kata-kata membuat hati Asep kembali remuk. Sudah dua tahun berlalu sejak ia dan Rengganis memutuskan berpisah, dan baru dua tahun itu juga anak sekecil itu sudah sadar kalau seharusnya ada dua orang dewasa yang mengurusnya. Asep tak menyalahkan para pengasuh anaknya ketika mereka dengan sengaja membahas dan menuntun anak itu untuk berkata yang tak wajar dikatakan seorang bayi. Walau hanya gumaman tak jelas, namun cara setiap syaraf dalam tubuh kecilnya merekam dan meniru, sangatlah menakjubkan. Asep tidak bisa menyalahkan para pengasuh itu. Mereka tentu hanya ingin membantu, membimbing anak itu mengenali dunia di sekitarnya. Namun, setiap gumaman, setiap tanya yang polos dan tak berdosa keluar dari bibir mungil itu, menghantam Asep lebih keras dari apapun.Katresna Salega Langit, nama yang mereka pilih bersama, adalah simbol cinta dan harapan. Rasa sayang seluas langit, itu artinya. Ketika Salega lahir, Asep dan Rengganis yakin mereka bisa menantang dunia, membuktikan bahwa cinta mereka lebih kuat dari keraguan orang-orang di sekitar. Namun, nyatanya cinta saja tak cukup."Asep, kamu baru 19 tahun sudah menikah! Mau dikasih makan apa istri dan anakmu nanti?"Suara keras Ibunya bergema dalam ingatan. Kala itu, ia merasa yakin bisa membuktikan bahwa ia mampu. Ia sudah bekerja, penghasilannya cukup, dan yang terpenting, Rengganis percaya padanya. Namun, keraguan dari keluarga dan teman-teman terus menghantui mereka."Rengganis, kamu cantik, kamu bisa dapat lelaki yang lebih dewasa, lebih mapan, kan?"Meski Asep berusaha sekuat tenaga menjadi suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab, kenyataan sering kali lebih keras daripada tekad manusia. Tekanan dari luar dan perbedaan pandangan membuat mereka terjebak dalam ketegangan yang tak pernah usai. Cinta mereka, yang dulu terasa tak tergoyahkan, mulai retak seiring waktu berjalan.Pada malam terakhir mereka bersama, Asep memeluk Rengganis erat, seolah berusaha menahan kepergian yang tak terhindarkan. "Gapapa, walau taatmu sudah padaku sekarang, tapi aku nggak mau kamu menderita. Gapapa, kalau memang kita diharuskan ada di singgasana yang sama di surga nanti, aku rela berpisah untuk saat ini." Suaranya bergetar, sementara Rengganis menangis terisak di dadanya. Asep merasakan setiap tetes air mata yang jatuh di bajunya, menyerap ke dalam kulitnya, menyakitinya lebih dalam daripada kata-kata."Biar Salega aku yang jaga," katanya dengan suara serak, "biar aku buktikan bahwa aku bisa menjadi ayah yang baik. Aku yang bertanggung jawab atas anak kita. Kamu izinkan?"Rengganis hanya mengangguk, tak mampu berkata apa-apa. Hatinya hancur, namun ia tahu inilah yang terbaik untuk saat ini. Mereka sudah mencoba, namun cinta yang mereka miliki tak cukup untuk melawan dunia yang keras.Salega tidur dengan tenang malam itu, seolah mengerti bahwa orang tuanya sedang melewati malam yang paling sulit dalam hidup mereka. Anak itu tak menangis, hanya terbangun sebentar, lalu kembali terlelap. Ia memberi ruang bagi Asep dan Rengganis untuk saling mengucapkan selamat tinggal tanpa gangguan."Tolong, jaga anak kita," bisik Rengganis ketika ia akhirnya beranjak pergi, suaranya penuh dengan kesedihan yang mendalam. Asep hanya bisa mengangguk, menahan air matanya. Ia tahu bahwa ia harus kuat, demi Salega, demi masa depan yang mereka perjuangkan bersama. Tapi, malam itu, di bawah langit yang kelam, Asep merasakan bahwa sebagian dari dirinya juga ikut pergi bersama Rengganis.


Dibalik wajah itu

Sunghoon

Nama: Park Sunghoon
Grup: ENHYPEN
Tanggal Lahir: 8 Desember 2002

Dipersembahkan untuk permainan peran.
2024 — Ceritanya bukan untuk ditiru.